Modus penipuan secara online kerap dilakukan melalui jejaring sosia, seperti dikutip dari sebuah artikel TEMPO.CO, dimana dari hasil sebuah penelitian bahwa penipu menggunakan informasi dijejaring social untuk mendapatkan profil dari calon korban.
Pengguna tak sedikit yang cukup pintar untuk menyiasatinya untuk menggagalkan aksi penipu, tapi, tak jarang pula penipu lebih kreatif untuk dapat mengumpulkan data yang cukup data dari berbagai sumber untuk mengajukan permohonan kredit atau melakukan pembelian online atas nama korban
Mereka menggunakan laman 192.com untuk mengumpulkan data dari calon korban, dan kebanyakan berada diwilayah inggris. Data ini sangat berguna untuk memberikan informasi mengenai berbagai hal tentang calon korban, seperti tempat tinggal, usi dan siapa saja relasinya.
Dengan menggunakan akun facebook maupun linkedln, para penipu kemudian menyempurnakan identitas untuk rincian lokasi, aktivitas, teman-teman dan foto, hingga pekerjaan. Menurut mereka situs 192.com adalah sumber informasi yang sangat baik.
Menurut mereka foto sangat penting, karena dapat memberikan info petunjuk tentang password atau pertanyaan tentang keamanan akun. Biasanya para pelaku akan membuat profil palsu seperti kasus disini mereka menggunakan akun facebook. Dengan menggunakan foto wanita yang menarik. Biasanya untuk menghubungi orang-orang yang dalam upaya ingin menjalin hubungan pribadi. Menurut mereka bahwa orang akan mengirimkan email dan memberikan semua informasi kepada profil palsu yang telah dibuat.
Atau bisa juga dengan membajak facebook, seperti membuat akun facebook baru dengan menggunakan nama yang mirip dan menyalin informasi untuk akun yang baru tersebut. Lalu menambahkan teman-teman mereka dan melakukan percakapan dengan mereka, setelah itu kita dapat mengekstrak informasi, ini merupakan jalan untuk mengekploitasi dan mendapatkan informasi.
Mereka biasanya mengorek informasi keamanan ini untuk penggunaan kartu kredit atau perihal pinjaman atas nama korban. Bahkan bisa pula pelaku menyusun rincian menjadi identitas lengkap dan kemudian menjualnya kepada orang lain untuk melakukan penipuan.
Justin Basini, pendiri dan CEO perusahaan keamanan ALLOW, mengatakan bahwa penerapan akal sehat dapat membantu pengguna media sosial untuk melindungi diri dari ulah para penipu yang mencuri identitas mereka.
Justin Basini, pendiri dan CEO perusahaan keamanan ALLOW, mengatakan bahwa penerapan akal sehat dapat membantu pengguna media sosial untuk melindungi diri dari ulah para penipu yang mencuri identitas mereka.
"Satu dari empat orang tidak memeriksa pengaturan privasi di Facebook, satu dari lima orang menerima permintaan teman dari orang asing, dan kebanyakan orang menggunakan password yang sama untuk semua jenis layanan," katanya.sumber :






0 komentar:
Posting Komentar